Pelestarian Kearifan Lokal: Subak Kedangan Banjar Wanayu Tetap Berdiri
Bedulu, Gianyar – Pura
Subak Kedangan di Banjar Wanayu, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten
Gianyar. Subak Kedangan resmi terbentuk pada 2 Agustus 1980 atas inisiatif
anggota masyarakat, dengan jumlah anggota mencapai 125 orang saat ini. Pura
Subak Kedangan, yang didedikasikan untuk Dewi Sri atau Dewi Persiapan, menjadi
pusat spiritual yang menyatukan unsur Tuhan, manusia, dan alam sesuai filosofi
Tri Hita Karana. Lokasinya di tengah hamparan sawah menjadikannya saksi bisu
perjuangan petani Bali dalam mengelola air secara adil dan berkelanjutan.
Organisasi ini menerapkan
awig-awig ketat untuk menjaga disiplin, seperti denda uang untuk pelanggaran
nikah atau gotong royong, dengan penggandaan jika telat dibayar dalam tiga
hari. Pembagian air dilakukan secara bergilir antar kelompok petani, termasuk
kelompok Brahma, untuk memastikan kesejahteraan bersama. Sistem ini
mencerminkan semangat gotong royong yang diakui UNESCO sebagai warisan
budaya dunia pada 2012, bersama Pura Subak dan sawah irigasinya di lima
kabupaten Bali.
Dalam liputan kali ini saya langsung mewawancarai Bapak I Ketut Marsa, pekaseh Subak Kedangan yang jadi pemimpin utama ngatur irigasi. "Puniki tanggal 2 Agustus bulan 2 tahun 1980 dan siapkan ikatan bentuknya pembentuknya dari anggota-anggotanya. Berapa anggotanya 120 orang maaf mungkin 125 anggota," jawab Pak Marsa ketika ditanya sejarah dan jumlah anggota. Lanjut soal sanksi awig-awig, beliau bilang, "Peraturan merupakan uang apapun jangka waktu 3 hari lalu tidak bayar lipat dua. Gotong royong kalau tidak dari petani datang karena denah 5000 rupiah" – artinya denda uang kalo telat bayar atau bolos gotong royong, bisa dilipatgandain. Trus pas bahas pembagian air, "Ada kelompoknya itu di beberapa setiap pembagian air itu ada kelompoknya ini Brahma cuma itu yang berupa," ungkapnya, nunjukin sistem bergilir antar kelompok seperti Brahma buat adil bagi semua petani.
Struktur Subak Kedangan
mirip organisasi modern, dipimpin pekaseh kayak Pak Marsa yang ngatur rapat,
koordinasi sama dinas pertanian, dan garis perintah ke kelian tempek atau
kelian munduk di tiap sekup sawah. Dibantu wakil pekaseh, sekretaris
(penyarikan) buat admin, bendahara (petengen) jagain kas, kesinoman nyebarin
info, sampe kerama subak sebagai anggota biasa yang ikut gotong royong. Masa
jabatan biasanya 5 tahun, dipilih lewat musyawarah mufakat, dan ada seksi-seksi
khusus buat bidang irigasi atau upacara – bener-bener demokratis dan adaptif
sama tantangan zaman sekarang. Di Gianyar, subak-subak kayak gini jadi contoh
suhuana budaya yang diakui UNESCO, bareng Subak Pulagan dan Kulub.
Dari liputan yang saya lakukan bawasannya anak muda Gianyar paham banget urgensi jaga kearifan lokal, apalagi di era digital di mana sawah sering kalah sama beton. "Subak dibentuk untuk mengatur sistem pengairan bagi para petani dengan tujuan mensejahterakan para petani," tutup Pak Marsa.





Komentar
Posting Komentar