Kisah Bli Kadek, Pembuat Kelengkapan Penjor
Bangli-
Perjalanan menuju Banjar Dukuh, Desa Bunutin, Kecamatan Bangli terasa
menenangkan. Jalanan mulai menyempit, diapit hamparan sawah hijau dan pepohonan
kelapa yang berjajar di sepanjang jalan. Suasana pedesaan di dataran rendah ini
begitu khas, di salah satu sudut desa yang asri itu, berdirilah rumah sekaligus
tempat usaha milik seorang pengusaha muda, I Kadek Agus Yudhi Pratama, atau
yang akrab disapa Bli Kadek, merupakan salah satu pengusaha muda yang sukses
mengembangkan usaha pembuatan kelengkapan penjor di Banjar Dukuh, Desa Bunutin,
Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Dalam wawancara bersama tim mahasiswa, Bli
Kadek berbagi kisah inspiratif tentang perjalanan usahanya yang dimulai sejak
masa sekolah menengah atas.
“Awalnya
saya cuma iseng bantu teman waktu SMA,” ujar Bli Kadek sambil tersenyum
mengenang masa itu. “Tapi lama-lama saya jadi tertarik. Apalagi waktu tahu
banyak orang mencari bahan dan kelengkapan penjor, akhirnya saya coba
seriusin.” Ujarnya
Kegiatan membuat
kelengkapan penjor, seperti sampian, tamiang, dan tedung kecil, memang
membutuhkan keterampilan dan ketelatenan tinggi. Menurutnya, proses ini tidak
hanya soal keindahan, tetapi juga memiliki nilai budaya dan spiritual yang kuat
bagi masyarakat Bali.
Pembuatan kelengkapan
penjor bukan pekerjaan mudah. Butuh ketelatenan dan rasa seni yang tinggi agar
hasilnya indah serta memenuhi nilai-nilai tradisi Bali. Menurut Bli Kadek,
proses ini bukan sekadar bisnis, melainkan juga bentuk pelestarian budaya. Dalam
proses pembuatan kelengkapan penjor, Bli Kadek menggunakan ental (siwalan).
Bahan-bahan tersebut tidak semuanya diperoleh di sekitar tempat tinggalnya. Ia
biasanya mendapatkan bahan baku dari langganan tetapnya yang berlokasi di Desa
Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Menurutnya, bahan dari sana
memiliki kualitas yang baik dan tahan lebih lama, sehingga sangat cocok
digunakan untuk pembuatan penjor upacara.
Untuk menghasilkan satu set kelengkapan penjor yang lengkap dan rapi, Bli Kadek memerlukan waktu sekitar 1-2 minggu, tergantung tingkat kerumitan desain dan jumlah pesanan. “Kalau motifnya banyak ukiran atau hiasan tambahan, bisa lebih lama dari biasanya,” ujarnya sambil menunjukkan hasil karyanya yang tengah dijemur di halaman rumah.
Adapun tantangan
tersendiri yang dihadapi Bli Kadek dalam menjalankan usahanya adalah soal
ketersediaan bahan baku. Ia menjelaskan bahwa harga bahan penjor seperti ental
(daun siwalan) seringkali tidak menentu dan sangat bergantung pada musim.
“Kalau
musim hujan, harga ental bisa naik cukup tinggi,” ungkapnya sambil menata
tumpukan janur di samping rumah. “Soalnya waktu hujan, bahan susah dikeringkan
dan stoknya juga berkurang.” ujarnya
Kondisi
tersebut membuat para pengrajin penjor harus lebih bijak dalam mengatur
penggunaan bahan agar tetap bisa memenuhi pesanan tanpa mengorbankan kualitas. “Kadang
kami harus pintar-pintar mengirit,” tambahnya. “Misalnya, dengan memanfaatkan
sisa janur yang masih bagus untuk hiasan kecil atau latihan buat anak-anak muda
di sini.”
Selain tantangan bahan
baku, persaingan usaha juga menjadi hal yang tak bisa dihindari. Bli Kadek
mengakui bahwa di Bali cukup banyak pengrajin yang menekuni bidang serupa.
Namun, ia melihatnya bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai motivasi untuk
terus berinovasi.
“Saingan
memang banyak,” ujarnya santai. “Tapi kalau hasil kerja kita rapi dan pelanggan
puas, pasti mereka akan datang lagi. Yang penting jaga kualitas dan pelayanan.”
“Kalau
pas Galungan atau Kuningan, permintaan bisa meningkat dua sampai tiga kali
lipat,” jelasnya. “Saya dan beberapa teman di desa biasanya lembur sampai malam
supaya pesanan bisa selesai tepat waktu.” tambahnya lagi.
Bli
Kadek juga menuturkan bahwa bisnisnya tidak langsung berjalan mulus. Ia sempat
menghadapi kesulitan dalam mendapatkan bahan baku dan mengatur waktu antara
kuliah dan pekerjaan. Namun, semangatnya untuk melestarikan tradisi sekaligus
mandiri secara ekonomi membuatnya terus bertahan.
“Kuncinya
sabar dan tekun,” katanya singkat namun mantap. “Kalau kita jalani dengan niat
baik, pasti ada hasilnya.”
Kini,
usaha Bli Kadek tidak hanya melayani warga sekitar Bangli, tetapi juga menerima
pesanan dari daerah lain di Bali dan juga kerap ikut lomba dalam acara-acara
tertentu. Ia berharap ke depan dapat memperluas jangkauan bisnisnya sekaligus
mengajak lebih banyak anak muda untuk tidak malu melestarikan budaya melalui
jalur wirausaha.
Dengan
semangat dan sikap optimis tersebut, Bli Kadek membuktikan bahwa menjadi
pengrajin kelengkapan penjor tidak hanya tentang membuat perlengkapan upacara,
tetapi juga tentang menjaga keberlanjutan tradisi dan nilai gotong royong di
tengah persaingan bisnis modern. Melalui kisahnya, Bli Kadek menunjukkan bahwa
warisan budaya seperti penjor tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga dapat
menjadi sumber penghidupan yang bermakna jika ditekuni dengan semangat dan
cinta terhadap budaya lokal.




Komentar
Posting Komentar