Dari 90 Ribu Per Bulan Jadi Rektor dan Pengusaha Cerita Inspiratif di Balik Seminar Kewirausahaan INSTIKI
Singaraja – Ruang seminar dipenuhi ratusan mahasiswa yang antusias mendengarkan kisah perjuangan seorang pria yang pernah kuliah hanya dengan uang saku 90 ribu rupiah per bulan. Dia adalah Dr. I Dewe Made Krishna Muku, atau yang lebih akrab dipanggil Krishna Muku, Rektor Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI) sekaligus pengusaha sukses di baliknya Seja Restaurant dan The Archa Villa Sanur.
Seminar karier dan kewirausahaan yang digelar kampus ini bukan sekadar ceramah motivasi biasa. Krishna Muku, yang juga praktisi bisnis dengan pengalaman di Astra International, membawa peserta untuk benar-benar nyemplung ke realita dunia wirausaha—lengkap dengan mindset, strategi, hingga kisah jatuh bangunnya.
Dari Nol: Kehilangan Ortu, Kuliah dengan 90 Ribu
Yang bikin seminar ini beda adalah ketulusan Krishna Muku dalam berbagi cerita hidupnya. Tanpa basa-basi, dia langsung membuka lembaran masa lalunya yang penuh keterbatasan.
"Saya kehilangan bapak waktu SMP, ibu waktu SMA. Pas mau kuliah, saya minta ke tiga kakak saya masing-masing 30 ribu. Jadi total saya cuma punya 90 ribu per bulan, padahal teman-teman yang lain dapat kiriman 200 ribu," ceritanya santai, tapi peserta langsung hening.
Beliau melanjutkan dengan senyum, "Buat bertahan, saya cuma makan nasi sama sayur. Enggak ada yang bisa larang saya makan itu. Itu hak saya, itu proses saya."
Dari sinilah Krishna Muku menemukan prinsip hidupnya yang kini jadi pegangan: "Kalau saya lahir di keluarga miskin, itu bukan salah saya. Tapi kalau saya mati miskin, itu total salah saya."
Quotes ini langsung viral di kalangan peserta dan jadi reminder bahwa tanggung jawab atas masa depan ada di tangan kita sendiri.
Mentalitas PNS vs Pengusaha: Mana yang Kamu Pilih?
Salah satu sesi paling seru adalah ketika Krishna Muku membandingkan mentalitas PNS dan pengusaha. Bukan soal mana yang lebih baik, tapi soal mindset.
"Mentalitas PNS itu cenderung menunggu dan pasif. Ini yang saya sebut 'kejahatan terhadap diri sendiri', karena kita punya potensi hebat tapi dibungkus sama ketakutan," jelasnya tegas.
Dia berbagi momentum terbesar dalam hidupnya: keputusan berani keluar dari posisi bergaji besar di Astra International untuk jadi dosen dengan gaji kecil. "Orang bilang saya gila. Tapi saya mencintai pekerjaan ini. Momentum itu yang bikin saya sampai di sini," ujarnya.
Krishna Muku juga sempat bercanda, "Namanya juga dosen, duitnya satu tapi seri-seri anak," yang langsung bikin peserta tertawa. Tapi di balik candaan itu, ada pesan serius: pilih pekerjaan yang kamu cintai, bukan cuma yang gajinya gede.
Sukses Bukan Tentang Enggak Gagal, Tapi Bangkit Terus
Definisi sukses versi Krishna Muku juga fresh: "Sukses adalah kemampuan seseorang untuk melewati kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan semangat."
Artinya, setiap kali jatuh, yang penting adalah semangat baru untuk coba jalan yang berbeda. Bukan soal enggak pernah gagal, tapi soal konsisten bangkit.
Di sesi tanya jawab, ada yang nanya soal investor dan penyebab kegagalan bisnis. Krishna Muku jawab simpel: "Fokus kasih yang terbaik hari ini, produk berkualitas. Kalau bisnis lo bagus dengan data valid, investor akan datang sendiri."
Yang lebih menarik, dia bilang kegagalan terbesar bukan soal bangkrut finansial, tapi punya usaha besar tapi stres atau enggak bahagia. Penyebabnya? Salah mindset.
"Mindset yang salah itu kalau lo berbisnis cuma pengen kaya dan gengsi. Mindset yang benar itu lo pengen membantu orang, kasih produk berkualitas dengan harga terjangkau. Uang besar itu cuma mengikuti diri yang besar," terangnya.
Friendly Campus dan Personal Branding ala INSTIKI
Sebagai Rektor, Krishna Muku juga membawa perubahan besar di INSTIKI dengan konsep "Friendly Campus"—di mana hubungan dosen dan mahasiswa lebih kayak sahabat, bukan lagi hierarki kaku ala kampus tradisional.
"Kalau dulu hubungan dosen-mahasiswa kayak ayah-anak, sekarang kami ubah. Di kampus kami, dosen dan mahasiswa adalah teman. Kami saling menghargai," jelasnya.
Hasilnya? Jumlah mahasiswa INSTIKI meningkat drastis dari cuma 90 orang di awal berdiri, sekarang mencapai lebih dari seribu mahasiswa setiap tahun.
Soal personal branding yang jadi concern banyak mahasiswa, Krishna Muku kasih tips simpel: fokus ke kualitas produk/jasa, bangun kepercayaan lewat kualitas itu, dan wujudkan hidup yang berhasil.
"Orang bilang gengsi, tapi sebenarnya itu cuma rasa takut. Kalau lo udah pede sama kualitas yang lo kasih, branding akan terbentuk sendiri," tegasnya.
Berhenti Takut, Mulai Sekarang
Seminar ditutup dengan pesan powerful dari Krishna Muku: "Jangan takut gagal, jangan takut mulai dari kecil. Setiap langkah kecil lo adalah bagian dari perjalanan besar menuju keberhasilan."
Beliau juga mengingatkan, "Kalau kamu dapat ilmu hari ini, terapkan sekarang juga. Jangan menunda. Pengusaha sejati enggak menunggu sempurna—biarkan perjalanan yang menyempurnakan kamu."
Selain memimpin kampus, Bapak Krishna Muku juga aktif memberikan pelatihan di berbagai perusahaan besar seperti Garuda Indonesia, Pertamina, PLN, BRI, dan Mandiri. Gaya bicaranya yang penuh energi dan humor, tapi sarat makna, bikin seminar ini bukan cuma informatif tapi juga entertaining.
Seminar ini berhasil menginspirasi ratusan mahasiswa untuk berani keluar dari zona nyaman, berhenti membungkus potensi dengan ketakutan, dan mulai bertindak. Karena seperti kata Krishna Muku, "Dunia enggak nungguin lo. Peluang adalah komoditas tercepat. Jadi, kamu mau jadi arsitek buat karier kamu sendiri, atau enggak?"


Komentar
Posting Komentar