Sejarah Pura Ponjok Batu, Buleleng: Jejak Spiritual di Pantai Utara Bali
Pura Ponjok Batu yang beralamat di Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Buleleng, menjadi salah satu pura bersejarah di Bali Utara. Keunikan pura ini terlihat dari lokasinya yang menjorok langsung ke laut, dengan bangunan suci yang berdiri di atas tumpukan batu karang hitam dan diyakini berdiri sejak abad ke-15.
Menurut
cerita masyarakat setempat, pura ini erat kaitannya dengan perjalanan suci Ida
Pedanda Sakti Wawu Rauh dari Jawa ke Bali pada abad ke-15. Saat tiba di pesisir
Buleleng, beliau melakukan tapa yoga di atas batu karang yang kemudian diyakini
sebagai tempat awal berdirinya Pura Ponjok Batu. Sejak saat itu, pura ini
dijadikan pusat pemujaan untuk memohon keselamatan, khususnya bagi nelayan dan
pelaut.
Keunikan
Pura Ponjok Batu terlihat dari lokasinya yang langsung menghadap laut lepas.
Pemandangan ombak yang menghantam karang membuat suasana pura semakin sakral.
Tidak hanya umat Hindu yang datang bersembahyang, wisatawan pun kerap
mengunjungi tempat ini untuk menikmati keindahan alam sekaligus mempelajari
sejarahnya.
Selain
memiliki nilai sejarah, pura ini juga sarat dengan simbol spiritual. Nama
“Ponjok Batu” berasal dari kata ponjok yang berarti menjorok, dan batu yang
merujuk pada karang besar di tepi laut. Tidak hanya itu, terdapat tempat
melukat (penyucian diri) yang sering digunakan oleh pengunjung sebelum
melakukan persembahyangan. Melukat ini dipercaya dapat membersihkan diri secara
lahir dan batin, sekaligus memperkuat keyakinan dalam menjalankan doa. Keunikan
inilah yang membuat pura ini berbeda dengan pura-pura lainnya di Bali.
Seorang
pemangku pura, menuturkan bahwa hingga kini Pura Ponjok Batu masih menjadi
pusat spiritual bagi masyarakat. “Setiap piodalan, ribuan umat hadir dengan
penuh keyakinan. Banyak nelayan datang untuk memohon keselamatan di laut,
karena mereka percaya pura ini memberi perlindungan,” ujarnya.
Selain umat lokal, wisatawan juga tertarik
berkunjung ke pura ini. Seorang pengunjung asal Denpasar yang sempat saya
tanyai, mengaku terkesan dengan suasana pura. “Pemandangannya bagus, langsung
menghadap laut dan juga ombak disini tidak seperti pantai yang lain yang ombak
selalu besar. Saat saya bersembahyang, terasa ada energi yang menenangkan. Saya
merasa tempat ini bukan hanya untuk yang beragama hindu saja, tetapi juga bisa
menjadi wisata spiritual,” katanya.
Piodalan
di Pura Ponjok Batu dilaksanakan setiap enam bulan sekali berdasarkan kalender
Bali. Pada hari itu, suasana pura semakin meriah dengan berbagai rangkaian
upacara, tarian sakral, serta gebogan yang dibawa umat dari desa-desa sekitar.
Komentar
Posting Komentar